JAKARTA, RABU - Matematika menjadi salah satu pelajaran yang menjadi momok bagi kebanyakan siswa. Tak terkecuali siswa SD. Namun, bagaimana pun juga, saat ini siswa SD tidak bisa menghindarinya. Selain Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), matematika menjadi salah satu pelajaran yang turut menentukan lulus tidaknya siswa menghadapi ujian nasional pada 2008.
Budayawan Mohammad Sobari mengatakan jangan sampai penentuan kelulusan siswa SD oleh mata pelajaran ini “membunuh” watak dan kreatifitas anak. Padahal, masing-masing anak memiliki potensi dan bakat yang berbeda-beda yang seharusnya juga menjadi pertimbangan sekolah maupun pemerintah sebagai penentu kebijakan terutama di bidang pendidikan.
“Jangan sampai angka membunuh anak saat ia masih berada pada proses pencarian dirinya,” ujarnya saat hadir sebagai salah satu pembicara di acara Debat Publik Membahas Kebijakan Pemerintah tentang Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) dalam Perspektif Perlindungan Anak di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, pada Rabu (15/4).
Sobari juga menyampaikan bukan cuma mata pelajaran matematika yang bisa “membunuh” siswa. Perilaku para pengajar yang mata pelajarannya dijadikan persyaratan kelulusan ujian nasional (seperti Bahasa Indonesia, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam) selama ini juga cenderung “membunuh” anak. “Perilaku yang keras itu setengah membunuh anak. Akibatnya anak tumbuhnya cuma setengah kepribadian. Dia juga akan menjadi minder, takut. Apalagi di rumah juga mendapat perlakuan sama,” ujarnya.
Ia menjelaskan proses balajar anak di sekolah juga menjadi bagian proses pencarian dirinya. Masing-masingnya memiiliki kelebihan tersendiri. Ada yang memiliki kemampuan di bidang matematika, musik, bahasa, dan sebagainya. Ini seharusnya difasilitasi dan membutuhkan proses. Jangan sampai kebijakan pemerintah yang bersentuhan dengan anak-anak, seperti menetapkan UASBN menghambat perkembangan mereka. (SMS)

Post a Comment

 
Top