IBUNDA

Ibunda, cinta itu seperti apa?
Jika engkau laut,
bagiku mencintaimu lewat perahu.
Jika engkau angin,
bagiku mencintaimu lewat layar.
O. laut adakah tempat untuk menampung perahu dan layarku?
(F, 21:26)
seperti inikah Bunda?
Aku melihat sungai mengalir diwajahmu.
Udara adalah kulitmu.
Dan matamu kulihat pada segala yang kulihat:
serupa cermin yang murni.
Sekali kau berkata padaku,
lewat bunga yang mekar serupa merah bibirmu.
Serupa keabadian yang jatuh ke dalam waktu.
Engkau adalah peristiwa yang runtuh di masa lalu.
Engkau adalah masa depan yang menyusup ke dalam mimpi sadar.
( F, 02:21)
seperti inikah bunda?
Aku lihat,
wajahmu tergantung bersanding elok wajah purnama,
di cakrawala timur…
(F, 19:12)
seperti inikah bunda?
Lewat malam yang sederhana.
Kita saling menyapa puisi.
Seperti keakraban sebuah doa.
Aku mengetuk kata,
Kau membuka jiwa lalu pada sebuah jarak.
Kau memintaku mengirimkan kabar,
kabar yang jauh,
penuh dengan dongeng-dongeng.
Kita merangkak dengan sabar,
menelusuri masa silam…
(F, 21:57)
seperti inikah bunda?
Kumasukkan musim hujan,
ke dalam sampul putih.
Kutoreh tanda petir di samping alamat,
Agar lekas tiba dan segera kau baca,
betapa gigil itu selalu menggelepar.
(F, 19:40)
Seperti inikah bunda?
Lalu bagaimana dengan gerimis dan senja hariku?. Mereka kucintai sejak aku bisa merasa bahagia, bersedih, gelisah, rindu, tertawa dan menangis akan kehadirannya.
Bunda, 2 purnama ini, gerimis dan senja hariku nampak memerah muda ketika larik ini tertulis begitu saja.
Di beranda
sampai jauh malam
aku menunggu
seseorang,
yang sebagian rasaku ada padanya.
yang aku tidak mau terlelap,
sebelum ia benar-benar tertidur.
(bunda menatapku dalam.
Sambil tersenyum beliau berkata: “iya nak, itu cinta”.
lalu bagaimana bunda? tanyaku.
simpan di kedalaman hatimu anakku,
sampai tiba waktumu…)
by:sekaralit

Post a Comment

 
Top