Kesempatan kedua mengajar di SMP LAZUARDI INSAN KAMIL tidak saya sia-siakan. Tema kali ini adalah tentang kerjasama. Tema ini adalah permintaan para siswa, setelah tema pertama tentang kenakalan remaja. Mereka sepakat untuk berusaha sekuat mungkin tidak nakal. Lalu timbul masalah.



“Kami masih sering berantem, satu sama lain. Aku tidur suka lampu dimatiin, tapi teman sekamarku tidak suka,” kata seorang siswa. Maklum ini baru bulan ke dua mereka berkumpul yang sebelumnya mereka tidak saling mengenal. Sekarang sampai tiga tahun kedepan mereka berkumpul dalam satu sekolah ‘boarding’. Bagaimana mengatur cucian, makan, membangunkan temannya untuk tahajud, dan interaksi lainnya. Pasti butuh kerjasama yang baik.



Saya sudah siapkan lessonplan KERJA SAMA. DAN tepat sehabis sholat Isya, saya mulai mengajar. Saya melihat antusias mereka luar biasa. Mereka sudah menunggu. Mungkin antusias ini adalah bawaan dari keberhasilan proses belajar pada pertemuan pertama bulan lalu. Saya jadi teringat apa yang dikatakan Einstain, “kalau awalnya tidak gila, maka seterusnya adalah biasa-biasa saja.” Malam ini sepertinya rasa ngantuk mereka terkalahkan oleh keinginan untuk belajar.



Saya memulai dengan ‘scene setting’ memutarkan cuplikan adegan film Nemo. Bagaimana ribuan ikan yang yang terperangkan di jaring sebuah kapal pencari ikan. Seua ikan itu hampir saja terangkut ke permukaan samudera, jika si Nemo, ikan kecil yang lucu tidak mengambil inisiatif melakukan sesuatu. Nemo meminta seluruh ikan yang panik untuk bersama-sama berenang ke satu titik tujuan yaitu ke dasar samudera.

Bersama-sama. Dengan aba-aba dari Nemo, maka ribuan itu saling memberitahu dan berenang bersama ke dasar samudera. Dan mereka berhasil. Jala ikan itu tertarik ke dasar samudera. Nemo terus memberi aba-aba dengan semangat. Kapal mulai oleng sebab tarikan jala. Dan akhirnya jala itu putus. Ribuan ikan selamat dan kembali berenang di samudera. Nemo berhasil membangun KERJA SAMA.



Para siswa semangat menonton adegan itu. Lalu saya melakukan diskusi dengan para siswa. Pertama saya bertanya apa yang dilakun si Nemo dan teman-temannya. Serempak mereka menjawab “KERJA SAMA”. Lalu saya meminta kepada siswa untuk menjelaskan dengan bahasanya sendiri, apa yang dimaksud kerja sama dari film si Nemo. Sungguh luar biasa antusias mereka menjawab. Langsung lima anak angka tangan. Bergantian menjawab.

“Kerja sama itu kompak.”

“Kerja sama itu harus ada yang memimpin.”

“Kerja sama itu harus saling pengertian.”

“Kerja sama itu tidak ada yang mengkhianati.”

“Kerja sama itu tidak boleh berantem.”



Wow luar biasa, jawaban mereka. Apalagi seorang siswa yang cukup unik, tiba-tiba angkat tangan dan menjawab, “Kerja sama itu harus saling percaya.” Saya pikir mereka telah berhasil mengkonstruksi atau membangun pemahaman tentang makna KERJA SAMA hanya dengan melihat cuplikan adegan film Nemo. Saya meminta seorang siswa untuk mencatat dengan mind map pengertian kerja sama, sementara ini ada 6, semuanya berasal dari siswa, bukan dari saya. Kerja sama itu kompak, ada pemimpin, saling pengertian, tidak berkhianat, tidak bertengkar dan saling percaya. Saya merasakan betul kebenaran tentang teori belajar constructivism, bahwa para siswa sudah mempunyai bahan dalam benaknya, hanya tinggal guru yang membantu membangunya menjadi konsep yang baru. Siswa memang bukan gelas kosong.



Aktivitas inti dari materi KERJA SAMA mulai saya munculkan ketika semua siswa sepakat dengan definisi KERJA SAMA ada 6 poin. Saya munculkan masalah baru, yaitu apa syarat utama KERJA SAMA bisa terbentuk. Mereka ramai berdiskusi dan belum menemukan jawabannya. Saya mengulangi lagi dengan sebuah pertanyaan lebih jelas.

“Jika kalian tadi mengartikan kerja sama itu adalah kompak, saling pengertian dan saling percaya percaya, pasti ada penyebabnya suatu kelompok dapat kompak, saling pengertian dan percaya. Nah apa saja yang menjadi penyebab terjadikanya ikatan itu?”

Pada saat mereka berpikir saya mengatakan bahwa jika kalian mengetahui faktor penyebab terjadinya ikatan kerja sama itu maka kalian akan mengetahui sebuah ilmu Allah yang luar biasa dahsyat, dan berguna buat kalian seumur hidup. Lalu saya bertanya lagi, “Apa mau kalian catat informasi maha penting ini?” Semua menjawab, “Mauuuuuuu ...”

Saya berusaha membuat mereka penasaran. Ketika mereka sudah di puncak rasa penasaran, maka saya ‘jatuhkan’ pengetahuan itu. Mereka semua melongo menunggunya.

Saya mengatakan ada 3 hal sebab kerja sama itu dapat terwujud. Pertama, setiap kerjasama pasrti harus punya TUJUAN. Kedua ada PEMIMPIN dan ketiga setiap pihak harus merasa bisa, tepatnya AKU BISA.



Saya dan semua siswa bersama-sama menentukan TUJUANnya, yaitu menyelesaikan sekolah ini sampai 3 tahun. Harus mampu. Jangan ada yang gagal. TUJUANnya jelas. Lulus SMP LAZUARDI INSAN KAMIL. Ketua kelas adalah PEMIMPIN kelompok ini. Kepala Sekolah adalah pemimpin sekolah ini. Dan masing-masing siswa menjadi PEMIMPIN untuk dirinya sendiri. Lalu apa benar mereka semua adalah siswa yang mempunyai KEMAMPUAN?

Begitu masuk dalam bagian ini masing-masing siswa saling pandang. Langsung saya tekankan bahwa bagaimanapun kondisi kita pasti allah memberikan kelebihan kepada kita. Saya minta dua siswa berdiri, dan satu siswa menyebutkan kelebihan temannya. Jika dapat menyebutkan boleh duduk kembali.



Demikian seterusnya masing-masing siswa menyebutkan kelebihan dan kemampuan teman-temannya. Sambil penuh canda mereka melakukan ‘discovering ability’ kepada teman-temannya. Sampai pada seorang siswa yang ‘katanya’ paling ‘nakal’. Sunyi senyap, sepertinya sulit menyebutkan kelebihan dari siswa yang nakal tersebut. Padahal yang bersangkutan ingin sekali disebutkan kelebihannya dari mulut teman-temannya. Dan beberapa menit kemudian, muncullah suara.

“Dia paling lucu he he he ...” Dan kami semua tertawa lepas. Akhirnya dari 21 siswa semuanya teridentifikasi kelebihan dan kemampuannya. Bukti bahwa AKU BISA. Maka lengkaplah 3 hal unsur pembentuk kerja sama. Sebelum kelas berakhir, kami semua sepakat untuk menamakan kelas ini dengan nama hebat ‘PASUKAN ELANG’. Elang selalu terbang tinggi, biasanya menjadi lebih obyektif, sebab dapat melihat sesuatu dari berbagai sudut. Elang jika menukik cepat dan tepat, artinya semua yang ditargetkan semoga tercapai. Malam ini kami akhiri dengan bersalaman, bermaaf-maafan dan masing-masing siswa membisikkan dengan kelebihan masing-masing. Sungguh saya harus berterima kasih dengan PASUKAN ELANG. Mereka adalah siswa-siswa yang luar biasa dan semoga Allah meridhionya untuk menjadi pemimpin pada masanya. Malam ini kami tutup dengan cantik. Selamat istirahat PASUKAN ELANG. Sampai bertemu dengan TAHAJUD. 

Post a Comment

 
Top